Founderplus
Tentang Kami
Business Operations

Cara Desain Business Model dan Value Creation untuk UKM

Published on: Friday, Mar 06, 2026 By Tim Founderplus

Cara Desain Business Model dan Value Creation untuk UKM

Anda kerja keras tiap hari. Revenue jalan. Tapi margin tipis dan susah scaling. Anda tambah jam kerja, naikkan target sales, bahkan turun langsung handle customer. Hasilnya? Lelah tapi bisnis jalan di tempat.

Mungkin masalahnya bukan di operasional. Mungkin business model Anda yang perlu di-review.

Banyak UKM terjebak di rutinitas harian tanpa pernah mundur sejenak dan bertanya: "Bagaimana sebenarnya bisnis saya menghasilkan uang?" atau "Value apa yang sebenarnya saya tawarkan ke customer?" Tanpa jawaban jelas atas dua pertanyaan ini, Anda hanya sibuk, bukan produktif.

Apa Itu Business Model? (Versi Simpel untuk UKM)

Business model adalah cara bisnis Anda menghasilkan uang. Bukan konsep abstrak untuk startup Silicon Valley. Ini soal empat pertanyaan sederhana:

  1. Siapa yang bayar? (customer segment Anda)
  2. Apa yang mereka bayar? (produk/jasa Anda)
  3. Kenapa mereka bayar ke Anda, bukan kompetitor? (value proposition)
  4. Berapa biaya untuk deliver value itu? (cost structure)

Kalau Anda bisa jawab empat pertanyaan ini dalam 2-3 kalimat, berarti business model Anda jelas. Kalau masih bingung atau jawaban Anda "semua orang", "semua kebutuhan", atau "kami paling murah", maka business model Anda belum cukup tajam.

Menurut framework Business Model Canvas dari Telkom University, business model yang solid memiliki sembilan komponen yang saling terhubung, dari customer segments hingga revenue streams dan cost structure. Untuk UKM, Anda tidak perlu isi semua blok secara formal dulu. Yang penting: Anda tahu siapa customer ideal Anda dan kenapa mereka harus beli dari Anda.

Baca juga: Apa Itu Business Operating System dan Kenapa UKM Perlu Memahaminya

Apa Itu Value Creation?

Value creation adalah proses menciptakan sesuatu yang customer anggap berharga, sehingga mereka mau membayar. Ini bukan soal fitur produk. Ini soal hasil yang customer dapatkan.

Contoh klasik: customer beli bor bukan karena bor-nya bagus, tapi karena mereka butuh lubang di dinding. Customer beli jasa konsultan pajak bukan karena tertarik sama tax regulation, tapi karena mereka mau aman dari masalah pajak dan hemat waktu.

Menurut Digital Leadership, value creation melibatkan proses mengubah resources menjadi sesuatu yang bernilai lewat kerja keras, inovasi, dan fokus pada kebutuhan customer. Ini bukan hanya soal profit, tapi juga tentang membangun relasi dengan stakeholder, inovasi, dan kontribusi positif ke ekosistem bisnis.

UKM yang paham value creation bisa menentukan harga berdasarkan value yang diciptakan, bukan cuma kompetisi harga. Ini bedanya antara bengkel yang charge Rp100.000 per jam vs bengkel yang charge Rp500.000 untuk "mobil Anda siap road trip tanpa worry". Harga berbeda, tapi value yang dijanjikan juga berbeda.

Teamwork collaborating on business strategy Sumber: Unsplash

3 Jenis Value yang Bisa Diciptakan UKM

Tidak semua value harus berupa produk yang canggih. UKM bisa menciptakan tiga jenis value:

1. Functional Value

Ini value paling straightforward: produk atau jasa Anda memecahkan masalah konkret. Warung kopi yang buka 24 jam di dekat kampus menciptakan functional value buat mahasiswa yang begadang. Laundry kilat yang jemput-antar menciptakan functional value buat pekerja sibuk.

Contoh: toko bahan kue yang stoknya lengkap dan update tiap hari. Customer datang ke sana bukan karena murah, tapi karena mereka yakin barang yang dicari pasti ada. Itu functional value.

2. Emotional Value

Ini tentang pengalaman, trust, dan perasaan yang customer dapat saat transaksi. Salon yang orangnya ramah dan selalu ingat preferensi customer. Bengkel yang selalu kasih laporan detail dan jujur soal kondisi mobil. Kedai kopi yang bikin customer merasa welcome dan produktif.

Contoh: tukang bakso langganan yang selalu sapa Anda dan ingat level pedas favorit Anda. Harga mungkin sama dengan tukang bakso lain, tapi emotional value bikin Anda balik lagi.

3. Economic Value

Ini soal hemat waktu atau uang customer. Bukan selalu tentang harga murah, tapi tentang efisiensi. Jasa konsultan yang bisa selesaikan perizinan dalam 2 minggu, sementara sendiri mungkin 2 bulan. Supplier yang kirim same-day sehingga Anda tidak perlu stok banyak.

Contoh: distributor bahan baku yang bisa kirim dalam jumlah kecil tapi frequent, sehingga UKM F&B tidak perlu modal besar untuk stok. Harga per unit mungkin sedikit lebih mahal, tapi total modal kerja yang dibutuhkan lebih rendah.

Baca juga: Cara Membuat Visi Misi Bisnis untuk UKM yang Benar-Benar Jalan

Tanda Business Model Anda Bermasalah

Tidak yakin apakah business model Anda sehat? Cek empat tanda ini:

1. Margin makin tipis, kerja makin banyak

Revenue naik, tapi profit stuck atau bahkan turun. Anda tambah jam kerja dan rekrut orang, tapi margin per transaksi makin kecil. Ini tanda cost structure tidak sustainable atau Anda tidak create enough value untuk charge lebih tinggi.

2. Customer hanya beli karena murah

Kalau Anda naik harga 10%, sebagian besar customer langsung pindah. Itu artinya mereka datang karena harga, bukan karena value. Business model seperti ini rapuh dan race-to-the-bottom.

3. Susah naikkan harga tanpa kehilangan customer

Biaya operasional naik, tapi Anda takut naikkan harga karena khawatir customer kabur. Ini tanda Anda belum punya strong value proposition yang bisa justify harga lebih tinggi.

4. Revenue stuck meski marketing gencar

Sudah pasang iklan, promosi besar-besaran, tapi revenue tidak naik signifikan. Atau naik sebentar lalu turun lagi. Ini sering terjadi karena value proposition tidak jelas atau Anda targeting customer segment yang salah.

Baca juga: Omzet Naik Tapi Profit Turun: Kenapa Ini Terjadi dan Cara Mengatasinya

Cara Mendefinisikan Business Model untuk UKM

Anda tidak perlu konsultan mahal atau workshop 3 hari. Ikuti empat langkah praktis ini:

Langkah 1: Definisikan Customer Ideal Anda

Bukan "semua orang" atau "siapa saja yang butuh". Tanya:

  • Siapa yang paling untung dari produk/jasa saya?
  • Masalah apa yang mereka hadapi yang produk saya bisa solve?
  • Karakteristik mereka seperti apa? (bisnis kecil, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dll.)

Contoh: warung sembako di komplek perumahan. Customer ideal: ibu rumah tangga yang mau belanja cepat tanpa harus ke pasar jauh. Bukan "semua orang yang butuh sembako".

Langkah 2: Artikulasikan Value Proposition dalam 1 Kalimat

Isi template ini: "Saya membantu [customer ideal] untuk [hasil yang mereka inginkan] lewat [cara unik Anda]."

Contoh:

  • Laundry: "Saya membantu pekerja kantoran sibuk untuk selalu punya baju bersih siap pakai lewat jasa jemput-antar same-day."
  • Konsultan pajak UKM: "Saya membantu UKM owner agar aman dari masalah pajak dan hemat waktu lewat layanan tax compliance yang simpel dan transparan."

Kalau Anda kesulitan isi template ini, berarti value proposition Anda belum jelas.

Langkah 3: Petakan Revenue Streams dan Cost Structure

Tuliskan:

  • Revenue streams: Dari mana saja uang masuk? (penjualan produk, jasa, subscription, komisi, dll.)
  • Cost structure: Biaya utama apa saja? (bahan baku, sewa, gaji, marketing, dll.)

Hitung gross margin per transaksi. Kalau margin terlalu kecil (di bawah 30% untuk produk, di bawah 50% untuk jasa), Anda perlu review pricing atau cost.

Langkah 4: Uji dengan Pertanyaan Ini

"Kenapa customer bayar ke saya, bukan ke kompetitor?"

Jawaban yang bagus bukan "karena murah" atau "karena dekat". Jawaban yang bagus adalah kombinasi dari functional, emotional, dan economic value yang spesifik.

Contoh bagus: "Karena kami satu-satunya toko bahan kue di area ini yang buka sampai malam, stok selalu update, dan owner-nya bisa kasih saran resep kalau customer bingung."

Kalau Anda bisa menulis artikel ini secara jelas dan saat ditanya ke sales team atau karyawan, mereka bisa jawab sama, berarti business model Anda mulai solid.

Value Creation sebagai Strategi Pricing

Kalau Anda paham value yang Anda ciptakan, Anda bisa charge berdasarkan value, bukan berdasarkan cost atau kompetisi harga.

Contoh: jasa konsultan branding untuk UKM. Kalau Anda charge berdasarkan jam kerja, mungkin Rp500.000/jam. Tapi kalau Anda charge berdasarkan value (misal: "branding baru yang bikin omzet naik 30% dalam 6 bulan"), Anda bisa charge Rp20 juta untuk project. Customer membayar hasil, bukan jam kerja Anda.

Ini bukan tipu-tipu. Ini fair, karena customer fokus pada outcome yang mereka dapatkan, bukan input yang Anda keluarkan. Mereka tidak peduli Anda kerjain dalam 10 jam atau 100 jam, yang penting hasil sesuai.

Untuk membangun pricing strategy berbasis value:

  1. Pahami impact bisnis yang customer dapatkan dari produk/jasa Anda
  2. Kuantifikasi value kalau bisa (hemat waktu berapa jam, hemat biaya berapa, naikkan omzet berapa persen)
  3. Charge sebagian dari value yang Anda ciptakan, bukan sebagian dari cost Anda

Baca juga: Pricing Strategy untuk Startup yang Ingin Profitable dari Awal

Banyak UKM malu untuk charge harga yang sesuai value mereka karena takut dianggap mahal. Padahal customer yang tepat tidak keberatan bayar mahal, asalkan value yang mereka terima jelas dan terukur.

Business Model dalam Konteks Business Operating System

Business model bukan berdiri sendiri. Ini adalah fondasi dari Business Operating System (BOS) yang lengkap.

Hubungannya begini:

  • Visi dan Misi menentukan arah kemana bisnis mau pergi
  • Business Model menentukan cara bisnis menghasilkan uang untuk capai visi itu
  • SOP dan Proses mengeksekusi business model secara konsisten
  • KPI mengukur apakah business model berjalan sesuai target
  • Tim dan Struktur Organisasi menjalankan semua proses di atas
  • Meeting Rhythm memastikan semua berjalan on-track

Tanpa business model yang jelas, SOP dan KPI Anda tidak punya anchor. Anda bikin SOP untuk apa? KPI ukur apa? Semua jadi random.

Contoh: kalau business model Anda adalah "laundry premium dengan jemput-antar same-day untuk profesional sibuk", maka:

  • SOP fokus ke speed dan reliability (bukan ke harga murah)
  • KPI track on-time delivery rate, customer satisfaction, repeat rate (bukan cuma revenue)
  • Tim direkrut dan di-training untuk customer service excellent (bukan cuma cuci-setrika cepat)
  • Pricing premium karena value-nya jelas

Semua aligned karena business model-nya jelas.

Baca juga: Bisnis Jalan Tanpa Owner: Cara Membangun Sistem yang Bekerja untuk Anda

Kalau Anda mau membangun bisnis yang jalan tanpa owner harus selalu turun tangan, mulai dari define business model yang jelas. Lalu build sistem di atasnya. Kalau business model-nya masih fuzzy, sistem apa pun yang Anda bangun akan fragile.

Kalau Anda ingin mendapat panduan lengkap untuk membangun Business Operating System yang solid, mulai dari business model hingga eksekusi harian, cek program BOS by Founderplus. Anda akan dibimbing selama 15 sesi dalam 2 bulan untuk mendefinisikan dan mengeksekusi business model serta sistem operasional yang sustainable.

FAQ

Apa itu business model dalam konteks UKM?

Business model adalah cara bisnis Anda menghasilkan uang, yaitu siapa customer Anda, value apa yang Anda berikan, lewat channel apa, dan bagaimana struktur biayanya. UKM yang tidak bisa menjelaskan business model-nya dalam 2 kalimat biasanya belum cukup jelas tentang arah bisnisnya.

Apa itu value creation dan kenapa penting?

Value creation adalah proses menciptakan nilai yang membuat customer mau membayar. Bukan soal produk murah, tapi soal memecahkan masalah customer lebih baik dari alternatif lain. UKM yang paham value creation bisa menentukan harga berdasarkan value, bukan kompetisi harga.

Apakah UKM kecil perlu memikirkan business model secara formal?

Ya. Banyak UKM yang asal jalan tanpa business model yang jelas, lalu bingung kenapa revenue stuck. Mendefinisikan business model membantu Anda fokus ke aktivitas yang benar-benar menghasilkan, bukan sibuk tapi tidak produktif.

Bagaimana cara tahu apakah business model saya sudah benar?

Tiga tanda business model yang sehat: (1) Customer repeat tanpa diskon besar, (2) Margin cukup untuk sustain operasional dan growth, (3) Anda bisa jelaskan kenapa customer pilih Anda, bukan kompetitor. Kalau salah satu tidak terpenuhi, review business model Anda.

Apa hubungan business model dengan Business Operating System?

Business model adalah fondasi BOS. Visi menentukan arah, business model menentukan cara menghasilkan uang, lalu BOS mengeksekusi keduanya lewat proses, tim, KPI, dan meeting rhythm. Tanpa business model yang jelas, SOP dan KPI Anda tidak punya anchor.

Closing

Business model dan value creation bukan konsep akademis untuk kuliah bisnis. Ini fondasi praktis yang menentukan apakah bisnis Anda sustainable atau cuma jalan di tempat.

Kalau saat ini Anda merasa sibuk tapi bisnis tidak maju, coba pause sejenak. Jawab empat pertanyaan ini dengan jujur: (1) Siapa customer ideal saya? (2) Value apa yang benar-benar saya ciptakan untuk mereka? (3) Kenapa mereka harus pilih saya, bukan kompetitor? (4) Apakah cost structure saya sustainable untuk deliver value itu?

Kalau jawaban Anda masih fuzzy, itulah yang harus diperbaiki dulu sebelum Anda bangun sistem operasional yang lebih kompleks.

Ingin panduan lengkap untuk mendefinisikan business model dan membangun sistem operasional yang solid? Cek program BOS by Founderplus yang akan membantu Anda build business operating system lengkap dalam 2 bulan. Investasi Rp1.999.000 untuk 15 sesi mentoring praktis yang bisa langsung dieksekusi ke bisnis Anda.

Bangun sistem bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

15 sesi mentoring intensif selama 2 bulan. Bangun sistem operasi bisnis Anda bersama praktisi berpengalaman. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar BOS Sekarang